jump to navigation

Kumpulan Cerpen

Aku Merenung

Aku Merenung

Aku Tidak Lebih Dulu ke Surga

Aku tidak tahu dimana berada. Meski sekian banyak manusia berada disekelilingku, namun aku tetap merasa sendiri dan ketakutan. Aku masih bertanya dan terus bertanya, tempat apa ini, dan buat apa semua manusia dikumpulkan. Mungkinkah, ah… aku tidak mau mengira-ngira.

Rasa takutku makin menjadi-jadi, tatkala seseorang yang tidak pernah kukenal sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku. “Inilah yang disebut Padang Mahsyar,” suaranya begitu menggetarkan jiwaku. “Bagaimana ia bisa tahu pertanyaanku,” batinku. Aku menggigil, tubuhku terasa lemas, mataku tegang mencari perlindungan dari seseorang yang kukenal.

Kusaksikan langit menghitam, sesaat kemudian bersinar kemilauan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara menggema. Aku baru sadar, inilah hari penentuan, hari dimana semua manusia akan menerima keputusan akan balasan dari amalnya selama hidup didunia. Hari ini pula akan ditentukan nasib manusia selanjutnya, surgakah yang akan dinikmati atau adzab neraka yang siap menanti.
Aku semakin takut. Namun ada debar dalam dadaku mengingat amal-amal baikku didunia. Mungkinkah aku tergolong orang-orang yang mendapat kasih-Nya atau jangan-jangan…

Aku dan semua manusia lainnya masih menunggu keputusan dari Yang menguasai hari pembalasan. Tak lama kemudian, terdengar lagi suara menggema tadi yang mengatakan, bahwa sesaat lagi akan dibacakan daftar manusia-manusia yang akan menemani Rasulullah SAW di surga yang indah. Lagi-lagi dadaku berdebar, ada keyakinan bahwa namaku termasuk dalam daftar itu, mengingat banyaknya infaq yang aku sedekahkan.

Terlebih lagi, sewaktu didunia aku dikenal sebagai juru dakwah. “Kalaulah banyak orang yang kudakwahi masuk surga, apalagi aku,” pikirku mantap.

Akhirnya, nama-nama itupun mulai disebutkan. Aku masih beranggapan bahwa namaku ada dalam deretan penghuni surga itu, mengingat ibadah-ibadah dan perbuatan-perbuatan baikku. Dalam daftar itu, nama Rasulullah Muhammad SAW sudah pasti tercantum pada urutan teratas, sesuai janji Allah melalui Jibril, bahwa tidak satupun jiwa yang masuk kedalam surga sebelum Muhammad masuk. Setelah itu tersebutlah para Assabiquunal Awwaluun. Kulihat Fatimah Az Zahra dengan senyum manisnya melangkah bahagia sebagai wanita pertama yang ke surga, diikuti para istri-istri dan keluarga rasul lainnya.

Para nabi dan rasul Allah lainnya pun masuk dalam daftar tersebut. Yasir dan Sumayyah berjalan tenang dengan predikat Syahid dan syahidah pertama dalam Islam. Juga para sahabat lainnya, satu persatu para pengikut terdahulu Rasul itu dengan bangga melangkah ke tempat dimana Allah akan membuka tabirnya. Yang aku tahu, salah satu kenikmatan yang akan diterima para penghuni surga adalah melihat wajah Allah. Kusaksikan para sahabat Muhajirin dan Anshor yang tengah bersyukur mendapatkan nikmat tiada terhingga sebagai balasan kesetiaan berjuang bersama Muhammad menegakkan risalah. Setelah itu tersebutlah para mukminin terdahulu dan para syuhada dalam berbagai perjuangan pembelaan agama Allah.

Sementara itu, dadaku berdegub keras menunggu giliran. Aku terperanjat begitu melihat rombongan anak-anak yatim dengan riang berlari untuk segera menikmati kesegaran telaga kautsar. Beberapa dari mereka tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku. Sepertinya aku kenal mereka. Ya Allah, mereka anak-anak yatim sebelah rumahku yang tidak pernah kuperhatikan. Anak-anak yang selalu menangis kelaparan dimalam hari sementara sering kubuang sebagian makanan yang tak habis kumakan.

“Subhanallah, itu si Parmin tukang mie dekat kantorku,” aku terperangah melihatnya melenggang ke surga. Parmin, pemuda yang tidak pernah lulus SD itu pernah bercerita, bahwa sebagian besar hasil dagangnya ia kririmkan untuk ibu dan biaya sekolah empat adiknya. Parmin yang rajin sholat itu, rela berpuasa berhari-hari asal ibu dan adik-adiknya di kampung tidak kelaparan. Tiba-tiba, orang yang sejak tadi disampingku berkata lagi,

“Parmin yang tukang mie itu lebih baik dimata Allah. Ia bekerja untuk kebahagiaan orang lain.” Sementara aku, semua hasil keringatku semata untuk keperluanku.

Lalu berturut-turut lewat didepan mataku, mbok Darmi penjual pecel yang kehadirannya selalu kutolak, pengemis yang setiap hari lewat depan rumah dan selalu mendapatkan kata “maaf” dari bibirku dibalik pagar tinggi rumahku. Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab setiap pertanyaanku meski tidak kulontarkan, “Mereka ihklas, tidak sakit hati serta tidak memendam kebencian meski kau tolak.”

Masya Allah . murid-murid pengajian yang aku bina, mereka mendahuluiku ke surga. Setelah itu, berbondong-bondong jama’ah masjid-masjid tempat biasa aku berceramah. “Mereka belajar kepadamu, lalu mereka amalkan. Sedangkan kau, terlalu banyak berbicara dan sedikit mendengarkan. Padahal, lebih banyak yang bisa dipelajari dengan mendengar dari pada berbicara,” jelasnya lagi.

Aku semakin penasaran dan terus menunggu giliranku dipanggil. Seiring dengan itu antrian manusia-manusia dengan wajah ceria, makin panjang. Tapi sejauh ini, belum juga namaku terpanggil. Aku mulai kesal, aku ingin segera bertemu Allah dan berkata, “Ya Allah, didunia aku banyak melakukan ibadah, aku bershodaqoh, banyak membantu orang lain, banyak berdakwah, izinkan aku ke surgaMu.”

Orang dengan wajah bersinar disampingku itu hendak berbicara lagi, aku ingin menolaknya. Tetapi, tanganku tak kuasa menahannya untuk berbicara. “Ibadahmu bukan untuk Allah, tapi semata untuk kepentinganmu mendapatkan surga Allah, shodaqohmu sebatas untuk memperjelas status sosial, dibalik bantuanmu tersimpan keinginan mendapatkan penghargaan, dan dakwah yang kau lakukan hanya berbekas untuk orang lain, tidak untukmu,” bergetar tubuhku mendengarnya.

Anak-anak yatim, Parmin, mbok Darmi, pengemis tua, murid-murid pengajian, jama’ah masjid dan banyak lagi orang-orang yang sering kuanggap tidak lebih baik dariku, mereka lebih dulu ke surga Allah. Padahal, aku sering beranggapan, surga adalah balasan yang pantas untukku atas dakwah yang kulakukan, infaq yang kuberikan, ilmu yang kuajarkan dan perbuatan baik lainnya. Ternyata, aku tidak lebih tunduk dari pada mereka, tidak lebih ikhlas dalam beramal dari pada mereka, tidak lebih bersih hati dari pada mereka, sehingga aku tidak lebih dulu ke surga dari mereka.

Jam dinding berdentang tiga kali. Aku tersentak bangun dan Astaghfirullah…, ternyata Allah telah menasihatiku lewat mimpi malam ini.

Dengan Cerpen ini aku mulai sadar bahwa tak ada seorang pun yang mampu memastikan dirinya masuk surga. Aku sungguh salut dengan orang yang buat Cerpen ini……..sapakah orangnya ya…?

Cinta Itu Seperti Menunggu Bis Saja

Sebuah bis datang, dan kau bilang, “Wah…terlalu sumpek dan panas, nggak bisa duduk nyaman nih! aku tunggu bis berikutnya saja”

Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata, “Aduh bisnya kurang asik nih dan kok gak cakep begini… nggak mau ah..”

Bis selanjutnya datang, cool dan kau berminat, tapi dia seakan-akan tidak melihatmu dan melewatimu begitu saja.

Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang, “Nggak ada AC nih, gua bisa kepanasan”. Maka kamu membiarkan bis keempat pergi..

Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor. Ketika bis kelima datang, kau sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya. Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kau tuju!

Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama..

Moral dari cerita ini, sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar ‘ideal’ untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kau pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia.

Tidak ada salahnya memiliki persyaratan untuk ‘calon’, tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita. Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.. tapi kau masih bisa berteriak ‘Kiri !’ dan keluar dengan sopan.

Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu. Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

Cerita ini juga berarti, kalau kau benar-benar menemukan bis yang kosong, kau sukai dan bisa kau percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kau dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu. Untuk dia memberi kesempatan kau masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia.

Bis seperti apa yang kau tunggu?

 

 

Pelangi dan Seorang Wanita

            Sudah lama aku tak melihat pelangi. Seharusnya, ia muncul sehabis hujan. Dan, pada saat seperti inilah seharusnya juga ia ada-bersama dengan rinai hujan yang kalau dirumuskan dengan metafisika : pelangi akan ada bila gerimis yang jatuh tertimpa olehsinarmatahari. Karena sifat dari warna putih (katanya, suci) ia akan menghasilkan beragam warna-warni-entah, itu merah, kuning, hijau, dan beberapa warna lainnya. Pelangi itu tak pernah ada, selama hampir 2 tahun ini. Padahal, aku selalu menunggunya. Lama, sekali. Dan, 2 musim hujan sudah terlewati. Sebenarnya, aku juga tak terlalu berharap banyak untuk menjumpai pelangi-agar bisa menatapnya sesuka hatiku. Barangkali, hal itu bisa menempatkan suasana baru di jiwaku yang terus-terusan rawan. Aku masih menunggu pelangi itu datang. Dan, bila hujan turun, jatuh menyentuh kaca jendela. Aku usap embun di kaca sambil memandang keluar. Melihat di belahan ujung bumi sambil berharap agar ada pelangi di ufuk sana. Entah, itu di Timur, Barat,Utara atau Selatan sekalipun aku pasti dengan setianya menunggu. Memandang keluar jendela saat hujan turun– seolah-olah masa kanak-kanakku yang ceria hadir lagi, merengkuhku– memaksaku untuk mengulanginya.

            Di kamar ini pikiranku mati, walau jasadku hidpu. Aku setel sebuah kaset. Gila, lagu itu lagi yang mengalun. Kau ayu… bertudung pelangi senja….. Aku mencoba balikkan kaset– aku putar lagi, tapi lagu itu juga yang terdengar di telinga. Aku cepatkan kaset, masih juga lagu itu yang terdengar. Aku banting tape itu, pecah-berkeping-keping , berantakan dan masih saja lagu itu yang terdengar. Aku tenggelam tak bertepi dengan lagu yang terus berputar di atas kepala, memutari langkah hidupku. Memutari cermin diri yang lama rusak.
“Apa kau percaya adanya pelangi ?”, tanyaku
“Ya”, ia berujar singkat padaku
“Tapi, ada hal yang aneh, dan mungkin kau tahu. Sekarang ‘kan sudah musim hujan”
“Ya. Lalu ?” “
Aku tak pernah melihat pelangi, kalau kau ?”
“Ah, masa sih. Bukankah setiap habis hujan pasti ada pelangi. Kemarin saja aku melihatnya. Sehabis hujan deras di sore hari. Pelangi itu begitu indah walau ia hanya berbentuk setengah lingkaran di ujung bumi “
“O, ya”
“Yups”
“Kau melihatnya di sebelah mana ?”
“Barat”
“Barat, mana ?”
“Ya, Barat tempat dimana matahari tenggelam “
“Oooo…”

            Sore hari berikutnya hujan deras tiba. Jatuh mengguyur bumi. Membasahi tanah. Membasahi rerumoputan. Membasahi jalanan. Membasahi hati kita yang telah lama kering. Aku menunggu agar pelangi itu tiba, sebagaimana seorang wanita menunggu kekasih hatinya. Tapi, pelangi itu tak pernah muncul. Aku sempat frustasi saat itu. Padahal dengan telatannya aku menanti. Eee, dia tak juga tiba. Aku mogok makan dan mandi selama beberapa hari. Tapi, karena aksi mogok yang kulakukan tidak diindahkan-Dan , juga karena aku sudah merasa sangat-sangat lapar. Bayangkan saja, aku bela-belain tidak makan selama 2 hari– segera saja aku santap hidangan di meja. Aku segera masuk ke kamar mandi. Aku bilas tubuh kotorku. Entah, sudah berapa lama aku tak membilas kekotoran ini. Malam hari, hujan masih turun, matahari sudah lama tenggelam. Bulir-bulir air yang jatuh dari langit itu menjadi sangat berharga. Aku teringat seorang wanita. Yeah, sebuah kenangan dan perjalanan. Aku masih ingat pada saat aku utarakan cinta, ia hanya tersenyum.

“Aku suka kamu?” ia menatapku terbelalak
“Apa yang kau suka dariku ?”
“Ya, semuanya. Rambutmu yang bagus. Apalagi saat disanggul, ingin aku bisa menyanggulnya. Mestinya aku punya kuping yang kecil agar tak menghalanginya. Aku suka kamu pada saat menggigit bibirmu apabila sedang gelisah”
“Lalu…”
“Ya, aku suka kamu” , ia hanya berlalu, pergi– dari hadapanku
“Aku bisa membuatmu, lho…”, aku berteriak kencang saat ia pergi
“Apa ?” “Jatuh cinta kepadaku…” dan ia tersenyum lagi. Aku tak tahu apa hatiku juga sedang tersenyum. Entahlah. Mengapa aku begitu mudah jatuh hati, tergila-gila pada seseorang. Dasar, cinta. Monyet!! Pernah suatu kali aku meneleponnya. Memberi tahu padanya bahwa aku sangat- sangat merindukannya. Ah, dunia yang lelah.
“Hallo?”
“Hallo..eh.. kamu Boy apa kabarnya ?”
“Baik”
“So, sekarang kamu lagi ngapain ? Apa pekerjaan kamu terakhir?”
“Ya, begini ini luntang-lantung tak karuan”
“Boy, aku rindu kamu”
“Sama dong aku juga..”
“Terus…”
“Ya, terus apa ?”
“Bisa ketemu kamu nggak?”
“Mungkin”
“Ha, mungkin apa maksudnya”
“Ya, kalau ada umur yang tersisa”
“Well, kapan ? “
“Gimana kalau besok malam”
“Oke, jam 7 kita makan di restoran kesukaanku. Kau jemput aku, ya..”
“Sip..”

            Di kota itu kata orang, gerimis telah jadi logam. Di bawah cahaya haripun bercadar, tapi aku tahu kita akan sampai ke sana. Dan, kita bercinta tanpa batuk yang tersimpan, membiarkan gumpal darah di dalam gelas itu menghijau. Dan, engkau bertanya mengapa udara berserbuk di antara kita? Apakah cinta itu indah ? Atau hanya sebuah ilusi mata ? Yang datang pada saat kita masih bangun tidur. Masuk saja, tanpa permisi. Apa sih cinta itu koq aku masih bingung ? Apakah bila suka sama seseorang itu cinta ? Dan, dari mana rasa itu datang ? Rasa-rasanya hal itu terjadi secepat kilat– perasaan itu masuk ke dalam kalbu. Tak terelakkan. Tuhan memang Maha Pencipta yang Paling Sempurna. Dengan sempurnanya Dia ciptakan manusia ini. Wajahnya, yang tak pernah pucat. Ceria, walau kadang-kadang ia bertingkah layaknya anak kecil. Dengan suaranya yang manja, menggoda-tak tahu, sudah berapa pria yang terpikat karena suara menelnya itu. Rambutnya sebahu, kulitnya putih. Terang saja aku merindunya. Terang saja aku mendambanya. Karena dia… begitu indah…

            Ira Rosnita, aku juga tak tahu mengapa namanya seperti itu. Mungkin, itu bukan urusanku tapi, kepentingan orang tuanya yang memberikan nama ketika ia lahir. Dari namanya saja sudah ada unsur mawar. Seperti Oom Shakespeare bilang “mawar dengan nama apapun tetap harum wanginya”, tak peduli ia hidup di tempat yang kotor, di tumpukkan sampah, atau di rawa-rawa.
“Ceritakan padaku kisah hidupmu”, kataku suatu ketika aku jalan dengannya, memandangi kota saat senja tiba. Di dalam restoran kesukaannya. Bla-bla-bla ia bercerita panjang lebar.
“Tahu nggak?”,ia berujar sambil menyeruput orange juice
“Apa?” “Waktu kecil, aku sering mandi hujan… “
“O. ya..”
“Ya, bener lho. Padahal aku seorang wanita. Dan, itu juga kulakukan sembunyi-sembunyi– agar tidak ketahuan Ayahku”
“Mengapa ?”
“Kau tahu ‘lah disini, Indonesia. Pamali, kata orang tua, tidak pantas bila seorang wanita mandi hujan. Itu ‘kan kerjaannya anak laki-laki” “Lantas?”
“Ya, aku nekat”
“Koq..”
“Habis, mandi hujan itu enak sih. Kita dapat mebebaskan diri kita” “Tapi, kamu ‘kan waktu itu masih kecil. Emangnya, kamu merasa terkekang, Ra…”
“Ya, itulah dari kecil orang tuaku selalu membatasi ruang gerakku, bahkan sampai sekarang , sampai aku sudah besar begini masih dibatasi dalam bergaul dengan orang-orang di sekitarku”
“Berarti kamu menyukai hujan ?”
“Ya, begitulah. Bagiku, hujan seakan memberikan keteduhan hatiku yang pengap”
“Pengap oleh apa ?”
“Koq, kamu nanya seperti itu melulu sih kaya’ polisi aja ”

            Sejak pertemuan itu aku jadi terus-terusan memandang hujan yang turun. Tak peduli dimanapun aku berada. Pokoknya, pada saat hujan tiba. Entah, di perjalanan pulang ke rumah, di dalam kamar, atau di tempat-tempat umum. Setiap ada hujan aku berhenti sekitar 5-10 menit, aku rasakan udara dingin yang dibawa hujan. Aku raba dan hirup dalam-dalam berharap, agar ia merasakannya juga.
“Kringgg…”, lamunanku buyar akibat suara telepon itu. Aku angkat
“Hallo…”
“Halo, Boy apa kau lihat gerimis diluar” ,aku pandang jendela bening di depanku “Ya..” “Kau lihat ada pelangi ?” Aku letakkan telepon, kuhampiri mulut jendela. Aneh. Aku kucekkan kedua mataku, tak percaya. Aku melihat lagi pelangi. Busur di ujung langit itu ada di pelupuk mata. Warna-warna yang terpancar indah. Merah-kuning-hijau. Aku tertegun– lama sekali. Aku tersentak, aku angkat lagi gagang telepon
“Hallo, Boy kamu masih disitu”
“Ya”
“Lama banget, sih angkat teleponnya”
“Habis…”
“Habis apa ?”
“Ah, nggak ..”
“Apa? Coba tell me, dong. Aku ‘kan sudah tahu kamu..” ia mengejar dengan sangat manjanya. Aku tak bisa lagi menghindar
“Sudah lama aku tak lihat pelangi”
“Lalu…” “Ya, itu aku juga heran. Koq, tiba-tiba sekarang aku bisa melihatnya”
“Karena aku memberi tahu ada pelangi “, ia menyela.
“Mungkin, kita jalan yuk …”
“Kemana ?”
“Ke restoran kesukaan kamu”
“Hujan-hujan begini ?”
“Ya, aku jemput deh”
“Tapi, masih gerimis”
“Tak masalah”
“Memang, kamu mau apa ?”
“Ya. Memandang pelangi sama kamu. Kamu suka ‘kan lihat pelangi. Aku jemput kamu, ya ?”
“Kapan ?”
“Ya, sekarang”

            Sore hari, sudah hampir habis. Aku keluar rumah tanpa jaket. Aku tantang gerimis. Masa, bodoh. Aku tancapo sepeda motor bututku. Lampu merah kuterjang. Untung polisi tidak ada. Batinku meronta kegirangan. At least, I can see the rainbow. It’s yang miracle. Thank’s god. Ku lihat di Barat senja sudah berangkat. Matahari hampir tenggelam. Jam ditanganku menunjukkan pukul 6 sore.

“Berjanjilah padaku, Boy..”
“Apa?”
“Bahwa kau mencintaiku seperti pelangi…”
“Mengapa ?”
“Pelangi itu jarang terlihat paling lama hanya setengah jam”
“Koq, kamu menyamakan cinta dengan pelangi”
“Abis, pelangi indah, sih.. tapi, ia sejati muncul pada saat manusia sedang gelisah dengan warna”
“Dan, pelangi tak abadi” sambungku
“Biar, yang penting indah”, aku hanya terdiam. Tak bisa berkata apapun apabila ia sudah berujar lewat egonya. Di pojok restoran, di pojok sebuah dunia. Kami tatap pelangi itu dalam-dalam sambil melihat sang mentari yang sebentar lagi tenggelam. Orang-orang di dalam restoran hanya keheranan melihat tingkah kami berdua. Masa bodoh, dunia memang selalu curiga bila ada orang yang bersikap tak sewajarnya. Waktu berlalu. Bergulir dengan cepat, secepat busur panah. Aku tak sanggup lagi mengejar putaran waktu yang berjalan seperti ini. Aku merasa terus-terusan tertinggal.
  Bagaimana mau masuk era globalisasi?-sedang diriku terasa berada jauh di bawah kemampuan orang lain. Kesibukan terus saja melanda. Aku sibuk, dia juga sibuk. Jarang, bahkan hampir tak pernah bertemu muka lagi. Seperti dulu, makan bersama di restoran pinggiran kota-sambil melihat air hujan yang jatuh dan mengagumi pelangi yang turun. Musim hujan telah berlalu-bahkan hujan tak lagi datang. Bagaimana ada pelangi bila hujan tak ada ? Hujan kini sudah benar-benar tak turun lagi. Orang-orang sudah banyak yang memaki keadaan ini. Kemarau berkepanjangan. Semua sektor kehidupan jadi mati tak berdaya.
“Masa, sih musim kemarau sekarang sudah berlangsung hampir 3 tahun” seorang ahli cuaca membeberkan argumentasinya di TV. Orang-orang pintar pura-pura kelimpungan.

Di kantor-kantor mesin pendingin banyak yang dimatikan guna menghemat pasokan air yang ada. Tanah sudah pecah-pecah, tanda musim kering yang kian menjadi. Banyak yang mempercayai kalau kota ini memang sudah kebanyakan dosa. Panas matahari terasa sangat terik. Mencekik leher. Berita-berita di koran, majalah, dan televisi menggambarkan penderitaan orang-orang yang terkena dampak dari kemarau ini. Suatu hari, entah hari apa, jam berapa. Orang-orang berteriak kesenangan. Langit mulai gelap. Udara dingin yang lama dinanti akhirnya datang juga. Kilat menyambar di udara. Bulir-bulir air mulai turun dari mega yang kelam itu. Perlahan tapi pasti rintik-rintik air satu per satu turun, lama kelamaan berubah menjadi deras. Seluruh kota kembali basah. Masyarakat banyak yang keluar rumah sekedar menikmati air yang jatuh. Mereka menari- nari bersorak kegirangan. Mandi hujan. Wajah kota kembali ceria. Aku masih disini, di dalam kamar ini, memandang hujan yang jatuh itu. Melongok keluar jendela. Pandangi air yang tumpah-ruah. Sambil, berharap sehabis hujan semoga ada lagi sebuah pelangi untukku. Dan, memang hidup adalah sebuah perenungan panjang…

Komentar»

1. arison - Oktober 20, 2008

ini pake redirection? daftar dimana bro?
rxtx

2. lumintu - Oktober 22, 2008

cari aja domain gratis….! gak cuman co.nr tapi masih banyak yang lain misal co.cc dll.setelah daftar redirect aja alamat worpressmu dengan doman baru yang kamu buat atau dengan bahasa lain di forward gitu…..


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.